Pages

Top 5: Kuliner Favorit di Cilegon (Part I)

Saturday, September 16, 2017

Sudah 5 tahun tinggal di Cilegon, kok rasanya kurang afdol kalau belum berbagi tempat makan favorit di sini. Dari 5 tahun yang lalu, sudah banyak banget perkembangan di dunia perkulineran Cilegon ini. Walaupun gak pesat banget, tapi lumayan semakin banyak pilihan. Kali ini yang akan saya bahas cuma tempat makan yang paling sering daya datangi bersama Nofec. Sebenarnya, ada beberapa tempat makan yang saya suka tapi Nofec gak terlalu suka. Begitu juga sebaliknya. Maka, kali ini saya hanya  menyebutkan tempat makan yang memang sesuai selera kami berdua. 

Beberapa tempat makan belum sempat saya foto karena belum sempat ke sana lagi. Nanti kalau saya sudah ke tempat makannya, saya update lagi post ini.  Dan maaf ya kalau sebagian foto agak gak oke. ^^

1. Selat Sunda

Buat yang suka ikan bakar, wajib banget buat datang ke tempat ini. Restoran ini memang hanya menyediakan seafood dan cara pengolahannya hanya dibakar. Perlu dicatet baik-baik ya. HANYA DIBAKAR. Jadi, kalau suka seafood yang diolah dengan berbagai macam saus (saus padang, asam manis, dll), kayaknya ini bukan tempat yang tepat. Bumbu bakarnya pun hanya satu jenis. Bumbu dasar dengan mentega dan garam. Gak ada yang namanya bakar kecap, bakar madu, dll. Seafood yang tersedia pun hanya ikan, udang dan cumi. Walaupun menu yang disediakan terbatas, tapi saya tetap suka banget datang ke sini. Bumbu mentega dan garamnya itu nyerap banget di ikan dan udang. Enak banget. Sambal yang disediakan di sini ada dua macam, sambal kecap dan sambal tomat dengan kemangi. Perpaduan sambal sama ikan atau udang bakarnya sempurna. Saya kalau ke sini biasanya pesan ikan kue bakar dan udang bakar. Juara banget deh rasanya. Untuk harga rasanya sesuai dengan rasa dan porsinya. Harga ikan 1 ons-nya sekitar 80 ribu. Kalau udang sekitar 70 ribu per porsinya. Selain ikan, udang dan cumi, Selat Sunda juga menyediakan sayuran seperti cah tauge dan kangkung. Kalau lagi ke Cilegon, harus mampir ke sini deh. Lokasi Selat Sunda sendiri di Jalan Ketileng Cilegon

2. Sop Kambing Tiga Saudara

Rasanya nama tiga saudara ini  ada dimana-mana. Entah semuanya berhubungan atau tidak. Tiga Saudara di Cilegon sendiri mengklaim dirinya sebagai cabang dari Tiga Saudara Roxy, Jakarta. Entah benar atau tidak, tapi yang pasi rasanya enak. Sop Tiga Saudara ini penampakan dan rasanya seperti soto betawi. Kuah santan dan susu dicampur dengan mentega dan daging (lebih banyak jeroan sih). Tapi kita bisa mengambil sendiri daging atau jeroan yang inginkan. Rasa kuahnya yang gurih dicampur dengan sambal itu nendang banget di mulut. Enak banget dimakan malam hari. Buat yang gak suka kambing, di sini juga ada daging sapinya kok. Nanti tinggal dipilih aja mau kambing atau sapi. Sop Kambing Tiga Saudara berada di jalan utama Merak-Cilegon. Kalau dari arah Merak lokasinya di kanan jalan di seberang gedung Sucoffindo

Ini sopnya udah dicampur sambel. Mantap lah dimakan sama nasi putih

Penampakan warungnya

K-Pop: [SM Station: Yo Young Jin & Taeyong] Cure & [NCT: Taeyong, Taeil, Doyoung] Stay in My Life

Thursday, September 14, 2017

Taeyong is everywhere.

2 lagu yang saya sebut di atas adalah lagu yang lagi sering banget  saya putar belakangan ini. Sampai Nofec hafal iramanya (dan dia ngotot ada lagu Inggris yang sama persis iramanya dengan Cure). Yoo Young Jin sendiri merupakan produser dari SM. Dia sudah memproduseri lagu-lagu untuk TVXQ, SNSD, BoA, Sujum etc (banyak banget lagu hits yang dibuat, silakan cek wikipedianya aja). Sebelum Cure, Yoo Young Jin juga penah mengeluarkan lagu station bersama D.O EXO yang berjudul Tell Me (What is Love). Suara mereka berdua kuat banget di lagu itu.


Pertama kali dengar Cure, saya langsung jatuh cinta. Siapa sih yang gak bakal jatuh hati dengar suara Yoo Young Jin di lagu soft rock seperti ini? Lirik Cure bercerita tentang harapan. Dan cerita tersebut dituangkan di dalam MV-nya di mana diperlihatkan predebut Taeyong yang selalu berlatih, berharap untuk dapat segera debut (haha, ini kesimpulan saya sendiri ya). Btw, SM kayaknya terlalu cinta dan mengeskploitasi muka anak ini. Banyak banget scene close-up muka Taeyong. Dan setiap kali ngeliat muka Taeyong, saya selalu kebayang Jaejong. Muka mereka berdua mirip banget. 

Stay in My Life adalah soundtrack dari drama KBS School 2017. Saya gak nonton dramanya, tapi karena saya suka banget sama vocal line NC, begitu tahu Taeil dan Doyoung menyanyikan soundtrack drama, langsung saya cari deh lagunya. I adore their voice. Awalnya saya gak banyak berharap (karena sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan soundtrack drama yang bernuansa ballad karena terkadang membosankan), tapi ternyata lagu ballad ini malah jadi favorit saya belakangan ini. Lagunya lembut, menenangkan, enak aja buat didengar.

Saya berharap banyak semoga ke depannya vocal line NCT ini (plus Jaehyun dan Haechan mungkin) punya lebih banyak kesempatan untuk mengeluarkan lagu (atau album, saya berharap banyak banget ni). SM, please...


*Ini post udah lama banget nangkring di draft. Tapi dua lagu ini masih sering saya dengar kok sampai sekarang. Masih suka. 

Cerita Pergi: Ti Amo Hotel, Penebel, Tabanan

Wednesday, August 2, 2017

Sudah lama saya berniat untuk mengajak orangtua saya menginap di luar rumah kami di Jalan Muliawan. Tidak sampai ke luar pulau, cukup di dalam Bali saja. Dan karena saya dan Nofec lebih suka dataran tinggi daripada dataran rendah, maka kami memutuskan untuk menghabiskan satu malam di Jatiluwih. Awalnya kami berencana untuk menginap di Ubud, tapi setelah mencari-cari hotel di Ubud, kami tidak berhasil menemukan yang sesuai dengan selera dan budget. Lalu tiba-tiba, aplikasi booking online kami merekomendasikan Ti Amo Bali. Setelah melihat-lihat kondisi hotel di internet, akhirnya saya dan Nofec setuju untuk memesan Deluxe Joglo Double Room di hotel ini.

Bangunan Joglo bagian belakang. Sayang saya tidak mengambil foto bagian depannya. 
Lokasi Ti Amo sebenarnya tidak persis berada di Jatiluwih, melainkan di daerah Penebel. Untuk menuju Jatiluwih dibutuhkan waktu sekitar 20 menit (kurang lebih 10 km) dengan mobil. Tapi, jika anda merasa tertantang untuk bersepeda, Ti Amo menyewakan sepeda dengan harga Rp. 75,000 untuk 1 hari.

Ini kamar bungalow yang saya foto dari balkon kamar saya
Kami tiba di Ti Amo pada hari Minggu siang (23 Juli). Staf hotel sangat ramah menyambut kami. Sebelum ke kamar, kami dipersilakan untuk menikmati teh jahe yang disediakan gratis oleh hotel di salah satu gazebo yang berada di halaman depan hotel. Ti Amo ini merupakan hotel kecil yang hanya mempunyai 6 kamar dengan pemandangan sawah di sekelilingnya. Di halaman depan hotel, terdapat 2 gazebo. Kolam renang berada di bagian tengah hotel yang membatasi bangunan Joglo dengan 2 kamar bungalow lainnya. Selagi kami meminum teh, staf hotel memberikan informasi dasar tentang hotel dan bagaimana cara kami menuju Jatiluwih. Sangat membantu!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS