Pages

Love to Live in Indonesia

Sunday, September 9, 2012

Sebenarnya banyak hal yang membuat saya, kita, harusnya cinta tinggal di Indonesia. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya tentang okenya Indonesia untuk ditinggali. 

Jujur, kalau saya menonton drama korea, atau film-film luar negeri (terutama yang bersettingkan Perancis atau Inggris) pasti terbersit pikiran, 'seandainya saya lahir dan tinggal di negara-negara itu pasti kehidupan saya akan menyenangkan.' Tidak jarang saya berandai-andai tinggal di negeri orang. 

Pada suatu siang, saya hendak mengirimkan sisa-sisa barang saya yang ada di kosan di Bandung ke Denpasar. Saya akan mengirimkan paket-paket saya itu menggunakan jasa Cipaganti. Karena layanan jemput Cipaganti yang terlalu sore, saya pun mengantarkan paket saya langsung ke poll Cipaganti Cargo yang ada di Pasteur. Awalnya saya ingin menggunakan taksi untuk membawa paket saya. Tapi karena tidak ada taksi yang lewat, maka saya pun menyewa angkot Riung-Dago untuk membantu saya membawa paket-paket saya. 

Setelah setuju dengan harga, bapak angkot pun menemani saya ke kosan untuk mengambil paket saya. Setelah paket-paket saya masuk ke dalam angkot, kamipun bersiap untuk meluncur ke Pasteur. Tapi, yang namanya musibah emang gak ada yang tahu kapan akan datang. Ketika si bapak angkot hendak mengeluarkan angkotnya dari halaman rumah kosan, tiba-tiba si angkot mogok tepat di tengah-tengan gang rumah kosan saya. Mogoknya angkot menyebabkan para pengguna jalan tidak bisa melewati gang. Saya dan bapak angkotpun cemas. Kalau saya lebih karena saya tidak mengerti sedikitpun mengenai otomotif sehingga saya bisa dikatakan tidak berguna untuk membantu si bapak angkot memperbaiki mesin angkotnya. Kalau si bapak angkot cemas karena angkotnya telah menghalangi perjalanan para pengguna jalan. 

Di tengah kecemasan kami, tiba-tiba ada 1 pengguna motor dan 1 tetangga yang ikut membantu memperbaiki angkot. Mereka dengan sukarela membantu kami yang sedang kesusahan karena angkot yang mogok. Kalau ditanya, apakah saya mengenal orang-orang tersebut? Tidak. Saya tidak mengenal salah seorangpun dari mereka (dan saya sedikit menyesal karena saya tidak banyak bersosialisasi dengan tetangga sekitar saya). Lalu, apakah tukang angkot mengenal kedua orang yang membantu kami. Tentu saja tidak. Tukang angkot itu tidak bermukim di daerah kosan saya. Lalu kenapa 2 bapak tersebut bersedia menolong kami? Sederhana. Tenggang rasa dan kepedulian. Karena mereka merasa peduli akan kesusahan kami mereka pun membantu kami. Tumben saat itu saya speechless karena bapak-bapak ini mau membantu kami walaupun tidak kenal. Hampir 30 menit kami,lebih tepatnya para bapak-bapak, saya hanya berdiri dengan tenang sambil memperhatikan para bapak-bapak, memperbaiki angkot yang rusak. Dan dengan bantuang bapak-bapak tetangga, si angkotpun akhirnya bisa jalan kembali dan saya sukses membawa paket-paket saya ke pasteur. 

So, what's the point of my story? Karena saya tinggal di indonesialah saya bisa mengalami kejadian seperti di atas. Ditolong oleh orang yang tidak saya kenal. Saya tidak yakin, jika saya tinggal di negeri lain, saya akan mengalami kejadian yang sama. Different country, different culture. Dari hal-hal kecil semacam inilah selalu memberikan pelajaran. 

Do you have any kind of experience that make you feel love for your country?

Opinion: TV Show

Wednesday, June 27, 2012

Saya sempat menyinggung sedikit tentang ketidaksukaan saya dengan gaya lawak para komedian Indonesia yang lebih banyak menjadikan kekurangan atau fisik orang lain sebagai bahan lawakan. Dan menurut saya Olga Syahputra adalah salah satu komedian merangkap sebagai presenter, penyanyi, yang menggunakan jenis lawakan tersebut. Karena itu saya tidak pernah menyukai Olga sebagai presenter atau pelawak (dan penyanyi juga)


Lalu saya membaca artikel ini beberapa saat yang lalu di yahoo.com

Olga Syahputra Lecehkan Salam, FPI Lapor ke KPI



Jakarta-C&R/OMG- Lagi, presenter kocak Olga Syahputra menuai masalah karena ucapannya yang tidak disaring. Kali ini, Olga dinilai telah mempermainkan dan melecehkan ucapan salam, Assalammu'alaikum saat tampil di acara Fesbukers yang tayang secara live di antv, Selasa (19/6/2012).


Atas ulah Olga, masyarakat mengadukan hal tersebut ke Komisi Penyiaran Indonesi (KPI). Bahkan organisasi Front Pembela Islam (KPI), pun turut mengadu. "FPI memang melakukan kontak dengan komisioner kami terkait ucapan yang berbau SARA yang dilontarkan Olga dan di media sosial juga ramai pengaduan tentang ucapan "Assalamu Alaikum" itu," ujar Nina Mutmainnah Armando, selaku Koordinator bidang isi siaran KPI, di Hotel Trevia Menteng Jakpus, Senin, (25/6/ 2012).

Curhat

Friday, March 30, 2012

Alhamdulillah saya diterima kerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta Barat. Masih OJT si, but i promise i'm gonna work hard and do my best! Yeaaahhhh..............

Karena itulah saya harus pindahan dari Dago Timur ke Meruya, Jakbar. Saya sempet ngucurin air mata di kamar pas beberes + di travel pas mau berangkat ke bekasi (sebelum saya beneran ngekos di Jakarta, saya ngungsi dulu di rumah Bude saya di Bekasi). Why did i cry?

1. Bandung udah jadi kota kedua di hati saya (nomer 1 teteplah Denpasar, karena semua keluarga saya di sana, saya lahir dan besar di sana). Bandung sudah melekat erat rasanya di tubuh saya, cahhh.... Sejak tahun 2007 saya mulai ngekos di Bandung, mulai hidup ga bergantung mulu dengan orangtua, mulai belajar dewasa. Duh, saya gak kebayang sebenernya kalo saya gak mutusin untuk kuliah + ngekos di Bandung. Saya pasti akan berbeda dengan diri saya sekarang. Saya beneran merasakan perbedaan yang besar pada kepribadian saya ketika SMA dan kuliah. I really growing up. More mature. Hehehee... Bandung adalah kota tempat saya tumbuh menjadi lebih dewasa. deeee......

2. Kampus ITB. Kemarin pas interview kerja, saya pernah ditanyain gini. Pernahkah kamu merasa menyesal memilih ITB sebagai tempat kuliahmu? Saya jawab tidak. Walaupun mungkin kadang saya sering galau merasa apakah saya benar-benar pantas dan cocok kuliah di ITB, tapi ternyata ketika saya ditanya, entah kenapa tanpa pikir panjang (bukan untuk promosi diri) saya langsung menjawab enggak, saya enggak pernah menyesal kuliah di ITB. Banyak hal yang saya dapatkan di ITB, yang mungkin akhirnya baru di saat seperti sekarang ini saya sadari. Lingkungannya, pendidikannya, dosennya, kegiatan-kegiatannya dan yang paling penting teman-temannya. Semua hal itu banyak mengubah pola pikir dan pandangan saya (dalam hal yang baik tentu saja). Dan juga sangat banyak membuka wawasan dan pengetahuan saya. 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS