Pages

Untitled

Wednesday, December 9, 2015

Sudah lama sekali tidak menulis apapun di blog ini. 
Kangen juga menulis semua hal yang suka berkecamuk di otak ini. 
Berusaha untuk lebih produktif lagi di blog ini. 
Semangat!!!

Hitam Putih 2

Ada banyak persepsi yang suka saya baca dan selalu membuat saya mengernyitkan kening. Maka saya sambung post saya yang Hitam Putih.

2. Ibu di rumah (tidak bekerja) lebih "ibu" ketimbang ibu yang bekerja di kantoran. 

Oh no!! Saya tidak habis mengerti kalau masih ada ibu-ibu yang memojokkan ibu yang bekerja di kantoran. Pasti tau meme yang mengatakan, "berlian ibu saja tidak mau ibu titipkan ke pembantu, masa aku, anak ibu dititipkan ke pembantu"

Heh, kalo gitu mah, anaknya kagak usah disekolahin, pan kalo sekolah dititipin juga kan namanya ke guru. Lagian mau amat dibandingin sama barang, berlian, yang jelas-jelas gak punya otak dan hati.

Ibu saya pekerja. PNS. Saya ingat, bagaimana dia setiap pagi masak, istirahat makan siang pulang sebentar untuk mengantarkan saya ke sekolah atau hanya sekedar mengikat rambut saya. Ketika pekerjaan ayah saya sedang tidak baik, hasil pekerjaan ibulah yang membuat rumah kami masih beroperasi.

Lalu, apa saya kehilangan sosok ibu? Apa saya jadi anak nakal? Apa saya jadi malas-malasan? Tidak. Sama sekali tidak. Dulu dirumah saya ada pembantu, tapi tidak membuat saya merasa lebih dekat dengannya. Ibu saya ya Ibu saya. Seorang PNS.

Semua ada latar belakangnya. Yang awalnya berambisi tetap menjadi wanita karir, tapi melihat bayinya tidak mau sama sekali minum asi yang dipompa selama beberapa hari, akhirnya menyerah dan merelakan pekerjaannya demi si buah hati. Ada yang awalnya ingin mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, tapi karena tiba-tiba suaminya di-PHK, dia berusaha keras mencari pekerjaan di luar rumah.

Kenapa kita harus menilai orang hanya dari luar? Arogan, seakan-akan jalan hidup yang kita pilih adalah yang benar. Orang yang berbeda berarti salah. Ada apa dengan kita? Kita tidak pernah tahu cerita sedih apa yang ada di balik senyuman orang. We never know, then never judge a people!

3. Menikah dini lebih baik dan ada juga yang bilang rasakan manfaatnya jika kamu tidak menikah dini.

Saya pernah membaca dua artikel yang bertolak belakang. 1 artikel menjelaskan keuntungan jika kita tidak menikah dini. Dan artikel lainnya menjelaskan banyak hal yang menjadi manfaat untuk kita jika menikah dini.

Well, saya sebenarnya tidak mengerti kenapa harus ada artikel-artikel semacam ini. Menikahlah jika kamu sudah mendapatkan pasangan yang kamu rasa dia adalah orang yang ingin kamu habiskan hidup bersama. Entah itu di umur dini atau tidak.

Kenapa saya baru akan menikah, InsyaAllah, di umur saya yang ke 27? Karena sebelum umur 27 saya belum menemukan pria saya. Saya baru menemukannya di umur 26 tahun. Saya tidak membuat target bahwa saya harus menikah di umur sekian, sekian, karena saya belum menemukan pria saya. Saya tidak membuat target ataupun mengulur waktu saya untuk menikah. Iya, saya tahu banyak manfaat jika menikah dini. Lah, tapi kalau belum ada calonnya, mau nikah sama siapa?

Jika memang ada yang merasa sudah mantap dan siap untuk menikah di umur dini, maka silakan. Tidak perlu membaca artikel yang mengatakan kalau menikah dini, maka nanti akan terbatas jika ingin travelling, jika ingin melebarkan karir kita, dan lain-lain.

Duh, kok sepertinya pernikahan itu malah membuat kita jadi terbatas. That's the main point here, yang malah seharusnya lebih dibahas, pastikan yang anda pilih adalah pasangan yang memang pasangan anda, yang mengerti anda.

Jika pasangan kita mengerti kita, saya yakin keterbatasan itu tidak pernah ada. Mau travelling, maka pergilah berdua. Justru jauh lebih baik kan? Mau berkarir lancar? Ada pasangan di rumah yang selalu mendukung, mendengarkan keluh kesah, memberikan nasihat, pasti akan lebih membakar semangat untuk bisa berkarir bagus, sehingga membuat kehidupan lebih nyaman. Saya selalu sepaham dengan istilah "dua lebih baik dari satu"

Dan saya sadar bahwa "2 lebih baik dari 1" ketika seseorang berkata seperti ini kepada saya: "Aku butuh teman hidup, yang bisa menemani aku di suka, duka, yang bisa aku ajak nonton bareng, nyanyi bareng, denger keluh kesah, ngasi nasihat, dan lain-lain untuk membuat aku lebih semangat mengejar cita-cita aku."

Yeah, bukan alasan menurut saya, jika ingin karir yang memuaskan, ingin bisa puas jalan-jalan, ingin puas menyenangkan diri sendiri sebelum benar-benar menikah. Pertanyaannya adalah apakah kita tahu di titik mana kita merasa puas? Manusia tidak pernah puas

Selama sudah mendapatkan pasangan yang tepat, maka menikah dini atau tidak, tidak perlu dibandingkan, tidak perlu dicari keuntungan dan kerugiannya. Karena manurut saya tidak akan ada kerugian yang diakibatkan dari menikah.

Hitam Putih 1

Saya terpikir untuk membuat tulisan ini karena saya agak capek dengan apa yang saya baca di media sosial atau yang saya lihat di sekitar saya ataupun yang pernah (mungkin) saya lakukan. Saya terlalu sering melihat bahwa kita, orang-orang Indonesia ini suka memandang sesuatu dari 2 sisi saja. Hitam dan putih. Well, saya tidak akan men-generalisasi. Tidak semua, tapi banyak. Kita suka merasa bahwa di dunia ini cuma ada dua warna. Hitam dan putih. Tidakkah kita melihat warna yang lain? Biru, abu-abu, jingga, coklat dan ribuan warna lainnya yang bisa kita dapat dengan mengkombinasikan semua warna yang ada. Mengapa saya mengatakan seperti itu? Saya akan bercerita beberapa kasus.

1. Orang kaya yang punya banyak uang itu pasti tidak bahagia hidupnya dan orang yang tidak memiliki banyak uang lebih tentram hidupnya. Atau orang yang menjadi kaya raya pasti akibat dari perbuatan yang tidak terpuji, dll. 

Saya langsung mengernyitkan kening saya ketika ada ilustrasi di facebook yang muncul di timeline saya yang menggambarkan bahwa orang yang punya banyak uang itu pasti tidak bahagia, karena mereka hanya mengejar uang tanpa peduli dengan keluarga dan hal lainnya. Hidup mereka hampa. Lantas gambar kedua mengekspresikan bahwa orang yang memiliki uang lebih sedikit itu jauh lebih bahagia karena mereka memiliki keluarga, mereka tidak mengejar harta. Hidup sederhana dengan keluarga yang bahagia itu lebih baik.

Saya tidak akan pernah menunjukkan gambar itu kepada anak anak saya nantinya. Saya akan berkata kepada anak-anak saya, jadi kaya dan berbahagialah!

Memang kalau jadi kaya itu berarti keluarga akan porak poranda? Anak jadi bandel? Terkena narkoba? Istri dan suami sering ribut karena pulang tidak pernah bertemu. Memang hidup itu seperti sinetron Indonesia?

Banyak sekali teman-teman saya yang hidup berkecukupan tapi tetap memiliki keluarga yang harmonis. Walau bapaknya petinggi perusahaan, anaknya tetap rajin, tidak bandel, tidak kena narkoba, berteman dengan saya, rajin shalat, dan lain lain. Sama seperti teman saya yang keluarganya tidak seberkecukupan seperti teman saya yang pertama. Apakah keduanya bahagia? Ya, keduanya bahagia.

Kenapa harus memilih salah satu? Kaya tidak bahagia atau kurang kaya tapi bahagia. Saya tentu saja akan memilih kaya dan bahagia.

Dan berbicara tentang menjadi kaya, pasti anda juga sering melihat ilustrasi di media sosial yang memberitahu bahwa kekayaan itu hanya duniawi dan tidak akan kita bawa ke akhirat, maka dari itu janganlah hanya mengejar kekayaan dengan cara-cara yang salah sampai melupakan ibadah kita.

Ajaran itu selalu saya tanamkan di benak saya. Yang tidak saya setuju adalah ketika orang-orang langsung menunjuk tangan mereka ke orang kaya dan mengatakan bahwa mereka hanya mengejar uang sehingga mereka korupsi, tidak mempedulikan keluarga dan hanya mementingkan kepentingan pribadi.

Apakah semua orang yang mendapatkan harta yang melimpah akibat hasil perbuatan yang tercela? Picik sekali pikiran kita jika begitu. Saya ingat waktu kuliah, di pelajaran agama, seorang mahasiswa mengatakan di depan kelas bahwa pns yang mempunyai mobil pasti karena korupsi. Waw, memang si cuma omongan 1 mahasiswa yang entah ada dimana otaknya, tapi saya curiga jangan-jangan banyak masyarakat kita yang memiliki pemikiran seperti ini. Saya ingat kenalan saya seorang pns yang mengumpulkan duit bertahun-tahun untuk bisa membeli mobil. Beliau tidak mencuri apapun, hanya menabung, dan berhasil memiliki mobil.

Saya tidak ingin masyarakat kita mengajarkan anak-anaknya dengan persepsi yang salah. Tentu saja saya setuju bahwa menjadi kaya dengan cara yang salah, mendewakan uang, menelantarkan keluarga adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Tapi mengajarkan nilai-nilai itu dengan membuat persepsi seakan-akan semua orang kaya seperti itu? Saya tidak akan mengajarkan ke anak saya seperti itu

Saya akan berkata, berkarya dan bekerja sebaik-baiknya di jalan yang benar. Beribadahlan dengan benar. Berkumpullah dengan keluarga, perhatikan mereka. Dan jika hasil kerja kerasmu terbayarkan dengan limpahan materi, maka tetaplah hidup sederhana. Jadilah orang kaya. Kaya Materi dan Kaya Hati.

Apakah mustahil menjadi seperti itu? 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS