Pages

Pengingat Untuk Saya

Friday, November 4, 2011

Sebenarnya hal-hal kecil seperti yang akan saya ceritakan ini sudah dari dulu saya tahu, saya sadar, tapi kok ya kenapa MALAS banget ngelakuinnya. Tapi baru kemaren saya sadar, terhentak, terpukul (dee... agak sedikit berlebihan ini tampaknya) ketika saya ke tanah abang jakarta, naik kereta dan harus nunggu kereta di stasiun. Menurut saya, jika ingin mengetahui bagaimana kondisi masyarakat suatu kota sesungguhnya, pergilah ke tempat umum seperti terminal, stasiun ataupun pasar tradisional. Dan selama hampir dua jam nunggu di stasiun tanah abang, mata saya jelalatan melihat sekeliling, melihat tingkah polah orang-orang di sana.

Saya selalu sebal jika ada orang yang merokok tanpa peduli orang di sekitarnya. Pernah, saya naik angkot dan angkot tersebut penuh sesak, tiba-tiba ada mas-mas (dari muka dan penampilannya sih kayaknya masih SMA) dengan tenangnya naik dengan rokok masih di mulut. GA DIMATIKAN. Asapnya masih ngepul-ngepul di dalam angkot. Bayangkan saja, di dalam angkot yang kecil yang udah penuh sesak sama orang-orang, asap rokok menyebar di dalam angkot. Ga tahan, akhirnya saya menegur mas-mas tersebut untuk mematikan rokok. Saya ga suka rokok, tapi bukan berarti saya menghakimi semua orang untuk tidak merokok. Saya ga punya masalah dengan perokok (kecuali keluarga saya. saya melarangnya), yang saya harapkan dari perokok adalah lihat keadaan sekitar ketika mau merokok. Kalau memang itu tempat umum dan lagi banyak orang, ya carilah tempat yang memang rada sepi atau memang tempat khusus untuk merokok.



Membuang sampah sembarangan. Dari kecil kita sudah diajarkan 1 kalimat ini. Tapi susah banget memppraktekannya. Kalau saya, alasan yang paling sering saya kemukakan adalah "ga ada tempat sampah sih di sekitar". Padahal, apa susahnya sih membawa dulu sampah kita sampai menemukan tong sampah terdekat? Dan sekarang ketika saya melihat orang membuat kulit pisang dari jendela kereta di stasiun atau orang membuang sampah dari jendela mobil di jalan, saya jadi kesal sendiri. Mungkin ini yang dirasakan orang lain ketika melihat saya membuang sampah sembarangan: "bisa-bisanya dia membuang sampah sembarangan ketika dia membenci dan tidak mau terjadi banjir di daerahnya/di kotanya"

Ketika saya mau turun tangga dari stasiun tanah abang, saya berhenti sebentar karena bingung harus lewat tangga yang mana. Tangga dibagi menjadi dua, kanan dan kiri, yang dibatasi pegangan besi. Saya pikir jika dibagi dua pastinya ada tujuan, untuk naik dan turun. Tapi karena tampaknya semua orang tidak begitu peduli dengan itu, mereka turun atau naik melalui dua bagian tangga, kanan dan kiri. Jadinya tidak teratur, berdesak-desakan, yang mau ke atas bertabrakan/berhadapan dengan yang mau ke bawah. Saya pun mengikuti orang-orang tersebut, tidak memilah tangga mana yang harus saya lalui. Jadilah saya juga bertabrakan dengan orang yang mau naik.

Ternyata, ketika saya kembali ke stasiun tanah abang dan akan naik tangga, saya melihat ada tanda dilarang masuk di tangga sebelah kanan saya. Saya pun naik melalui tangga kiri. Ketika mau naik, saya melihat ada dua orang yang naik tangga berhadap-hadapan karena sedang memegang 1 kardus besar dengan langkah lambat. Saya pun urung naik tangga sebelah kiri, karena yakin pasti akan lama sampainya. Tepat ketika saya berada di samping dua orang pemegang kardus besar ini, tas plastik yang ada di atas kardus besar itu, tergelincir dan hampir jatuh. Saya pun menagkapnya, dan meletakkannya kembali di atas kardus itu. Lalu, saya berlalu. Ya, saya berlalu. Dua orang tersebut tidak mengatakan apapun pada saya, tidak ada "terimakasih". Saya bukan penggila kata terimakasih, tapi bukankah ketika kita ditolong orang, sudah sepantasnya kita mengucapkan terimakasih pada orang tersebut? Saya pun bertanya-tanya pernahkah saya melakukan hal tersebut, tidak mengucapkan terimakasih pada orang yang telah menolong saya?

Hal-hal yang saya ceritakan di atas sebenarnya hanyalah masalah kecil yang kita temui sehari-hari. Saya pun berpikir, jika hal-hal kecil seperti ini tidak saya lakukan, lantas siapa yang akan melakukan? Terlepas dari semua masalah pendidikan, ekonomi, pemerintah yang tidak bisa mengatur rakyat/negaranya, kita, saya lebih tepatnya, sebagai seorang mahasiswa yang memiliki pendidikan, berasal dari keluarga yang bisa dikatakan bercukupan, dan seorang manusia yang memiliki akal sehat yang bisa digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tidak bisakah saya melakukan hal-hal kecil tersebut? Sungguh, sebenarnya hanya ada 1 hal yang menyebabkan saya tidak melakukan hal-hal tersebut. MALAS. Malas mencari tempat sampah, malas menganalisa mana tangga naik mana tangga turun, malas membuka mulut mengucapkan terimakasih dan sejuta malas lainnya.

Maka dari itulah, saya membuat postingan ini sebagai pengingat saya untuk mengubah diri saya.

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS