Pages

Parenting Road: Karena Tidak Ada Mpasi yang Sempurna

Monday, October 19, 2020

Lulus ASI ekslusif 6 bulan, saya mendapatkan tantangan baru. Mpasi. Awalnya sih saya semangat banget menunggu Bara mulai makan. Saya pikir Bara akan mudah makan. Mau mangap setiap kali sendok datang. Sesi makan hanya selesai dalam waktu 15 menit saja.Tapi ternyata tidak semudah itu. Walau penuh dengan suka dan duka saya mau berbagi persiapan apa saja yang saya lakukan untuk menyambut fasa baru ini

1. Mencari informasi sebanyak-banyaknya

Sebelum memulai dan berbelanja segala alat tempur, saya sangat menyarankan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai pemberian mpasi yang tepat. Saya sendiri mulai mencari informasi ketika Bara masih 2 bulan dan saya masih cuti melahirkan. Yang saya lakukan hanya membaca highlight ig story Dokter Meta (atau yang sering dipanggil dokmet). Dokter Meta sudah memberikan pemaparan mengenai mpasi dengan sangat lengkap. Dari A-Z semua dijabarkan. Dari menu yang harus diberikan (ada yang masih bingung mau memberi puree buah dulu atau makanan lengkap yang diblender?), aturan makan, jadwal makan, mpasi fortif, semuanya lengkap dibahas di sana. Jadi kita tidak perlu keluar duit banyak untuk mebeli buku mpasi. Tapi setahu saya, selain dokmet banyak juga dokter yang suka membahas mengenai mpasi. Silakan dicari saja. Tapi yang dicari dan dijadikan sebagai referensi benar-benar pakarnya ya. Jangan menjadikan selebgram/influencer yang bukan ahlinya sebagai referensi pemberian mpasi yang benar.

Saya sempat membeli 1 buku kumpulan resep mpasi. Setelah membaca ig dokmet, buku itu akhirnya tidak pernah saya pakai. Jadi, sebelum membeli bermacam buku atau peralatan mpasi. Saya sangat rekomendasikan untuk membaca highlight IG Dokter Meta ya (@metahanindita)

2. Menyiapkan peralatan Mpasi

Beberapa barang untuk Mpasi sudah saya dapatkan sebagai kado lahiran. Ada beberapa barang yang saya beli. Dari kado dan yang saya beli ada beberapa barang yang memang terpakai dan ada yang tidak terpakai sama saya.

Barang yang benar-benar saya pakai: 

1. Alat Makan (Piring, Mangkuk, Sendok dan Gelas) 

Kalau ini pasti. Karena saya dapat kado alat makan bayi, jadinya saya tidak membeli lagi. Saya bukan penganut pakai alat makan yang lucu biar anak mau makan. Karena memang sudah ada alat makan lengkap, jadinya saya cukup pakai yang ada saja. 

2. Tempat menyimpan makanan

Ini juga saya dapat kado dari teman. Wadah bertutup plastik dari Babymoov. Dan ini saya suka sekali karena ada takarannya dan bisa ditumpuk. Jadi tidak memakan tempat di kulkas. 

Karena saya bekerja, saya akan memasak mpasi Bara langsung untuk satu hari. Nanti tinggal saya bagi menjadi 3 dan disimpan dalam wadah babymoov ini. Kalau mau makan tinggal diletakkan saja dalam rice cooker. Praktis. Sampai Bara berumur 17 bulan, saya masih memakai wadah ini. 


Parenting Road: (Mpasi) Naik Tekstur

Wednesday, June 17, 2020

Aku bukan Ibu yang anti mpasi fortif. Malah aku suka kasi fortif untuk Bara. Karena aku percaya kandungan gizi mpasi fortif sudah terukur. Tapi, salahku, aku terlena dengan mpasi fortif. Karena suatu hal, aku pernah hanya memberikan Bara mpasi fortif selama 2 bulan. Hasilnya Bara tidak mau sama sekali makanan homemade, dan hanya mau mpasi fortif

Awalnya sih aku tenang saja, tapi ketika Bara berumur 10 bulan lebih aku kepikiran. Harusnya, di umur segitu Bara sudah bisa makan nasi lembek, tapi nyatanya Bara masih makan mpasi fortif yang bubur. Bara belum naik tekstur. Boro-boro mau naik tekstur, diberi homemade saja Bara langsung menolak. Sebetulnya ada mpasi fortif yang teksturnya untuk umur 9-12 bulan, tapi Bara tidak mau. Bara hanya suka 1 jenis fortif. 

Jadi, sebelum bisa naik tekstur aku harus membuat Bara mau makanan homemade. Kalau ditanya kenapa ingin sekali Bara naik tekstur, ya karena aku mengikuti saran ahlinya. Umur 9 bulan anak sudah bisa dikasih nasi lembek. Umur setahun sudah bisa nasi biasa. Setahu aku juga disarankan untuk naik tekstur sesuai umurnya karena tekstur penting untuk melatih otot mulut anak. Otot mulut anak perlu dilatih sebagai salah usaha agar anak tidak terlambat bicara.


Dari situ, aku dan Bara mulai belajar naik tekstur. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang ingin aku bagikan mengenai naik tekstur ini. 

Parenting Road: Sedang dan Masih Berusaha MengASIhi

Monday, October 14, 2019

Umur Bara baru 4.5 bulan. Jadi baru selama itu saya memberikan ASI untuknya. Dengan pengalaman saya yang masih minim ini saya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan meng-ASI-hi saya. Saya harap cerita saya ini dapat lebih memacu saya untuk tetap semangat memberikan ASI dan mungkin bisa membantu calon ibu muda yang ingin memberikan ASI kepada bayinya.

Di postingan saya tentang persiapan sebelum melahirkan saya memasukkan kunjungan ke konselor laktasi sebagai hal yang wajib dilakukan jika memang ingin memberikan ASI pada buah hatinya. Waktu itu saya sempat kebingungan mencari konselor laktasi yang ada di Cilegon. Setelah mencari-cari di instagram, sambil bertanya ke teman-teman kantor lainnya, akhirnya saya menemukan kontak Mbak Yani, anggota KPAB (Komunitas Peduli Asi Banten). Di usia kehamilan saya yang ke 32 minggu, Mba Yani sepakat untuk datang ke rumah saya dan memberikan materi tentang menyusui. Semuanya dijabarkan secara mendetail oleh beliau. Bagaimana ASI diproduksi, kandungan ASI, mengetahui tanda kecukupan ASI, latch on yang benar, manajemen ASIP, dan tetek bengek lainnya. Saya dan suami pun sangat terbantu dengan informasi yang diberikan dan sangat cukup menjadi bekal kami dalam meng-ASI-hi Bara. Untuk calon ibu yang ingin mengunjungi konselor laktasi (atau ikut kelas laktasi), jangan lupa ajak suami/ibu/mertua/siapa pun yang akan berada dalam satu rumah ya.

Walaupun sudah mendapatkan paparan lengkap dari konselor laktasi, perjalanan menyusui saya juga tidak langsung lancar. 3 hari awal pasca kelahiran, ASI saya belum ke luar. 2 hari awal, saya masih sangat santai, di hari ketiga, melihat mulut Bara kering, tangisan saya pecah. Saya sudah berusaha untuk menyusui setiap 2 jam sekali tapi ASI tetap belum keluar. Suami selalu menyemangati, kakak ipar menyarankan saya untuk merangsang payudara dengan pompa (selain dengan DBF). Tepat 72 jam setelah lahir, karena ASI saya belum keluar akhirnya kakak ipar saya memberikan ASI-nya untuk Bara. Melihat Bara lahap minum ASIP (dengan menggunakan sendok), pikiran saya langsung lega. Saya kembali bersemangat untuk memompa. Akhirnya di hari ketiga, di malam hari, ASI saya menetes ketika dipompa. Sungguh bahagianya saya melihat tetesan itu. Hasil pompa langsung saya berikan ke Bara. Hari-hari selanjutnya cukup tenang. Bara tetap saya susukan secara langsung dan sesekali saya pompa payudara saya (di mana hasil pompa saya terkadang hanya membasahi pantat botol, atau hanya 10-20 ml). Tepat 1 minggu setelah Bara lahir, kami kontrol ke dokter. Dan saat itu dokter mengatakan bahwa Bara kuning. ASInya kurang, minumnya kurang. Bara pun harus disinar 36 jam di rumah sakit. Lalu Bara minum bagaimana? Saya harus memompa ASI saya. Awalnya saya khawatir karena biasanya hasil pompa saya tidak banyak, namun, entah kenapa, saat itu karena dokter menghakimi ASI saya sedikit, semangat saya terbakar untuk membuktikan bahwa dokter itu salah. Dan benar. Ketika Bara disinar, hasil pompa saya meningkat menjadi 50-60ml. Dan Alhamdulillah itu sangat cukup untuk sekali minum Bara. Keluar dari rumah sakit, Bara semakin kuat menyusu dan Alhamdulillah sampai saat ini ASI saya masih sangat mencukupi kebutuhan Bara.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS