Pages

Cerpen: Terima Kasih

Thursday, December 24, 2020

Ren tidur. Tubuh mungilnya terpapar sinar biru. 

Aku melihatnya dari balik kaca. Mataku berair. Tangan kananku memegang botol kaca berisikan 40 ml asip yang berhasil aku pompa selama 1 jam. Mas Pram memegang tanganku yang lain. 

“Kenapa sih ngotot cuma kasi asi. Udah tahu gak keluar, Ren nangis-nangis kehausan.” 

“Ibu, sudahlah. Aku sama Prita udah mutusin kalo kami mau berusaha semaksimal mungkin memberikan Asi. Yang penting kan sekarang Ren udah disinar. Sekarang Prita juga udah bisa mompa asi.” 

“Emang cukup segitu? Udah lama mompa hasilnya cuma sedikit. Nanti Ren kurang minumnya. Udah sih, kasih susu kaleng aja.” 

“Ya cukuplah Bu. Bayi seminggu ya minumnya gak banyak. Jangan samain kayak Kino yang udah setahun minum susunya bisa sebotol penuh.” 

“Iya, tapi Kino dulu waktu bayi gak sampe disinar. Sehat terus sampai sekarang.” 

“Bu..” Aku mengeratkan genggaman tanganku. Mas Pram menatapku, lalu menghela nafas, mengurungkan niatnya untuk membalas omongan Ibunya. 

*** 

Parenting Road: Karena Tidak Ada Mpasi yang Sempurna

Monday, October 19, 2020

Lulus ASI ekslusif 6 bulan, saya mendapatkan tantangan baru. Mpasi. Awalnya sih saya semangat banget menunggu Bara mulai makan. Saya pikir Bara akan mudah makan. Mau mangap setiap kali sendok datang. Sesi makan hanya selesai dalam waktu 15 menit saja.Tapi ternyata tidak semudah itu. Walau penuh dengan suka dan duka saya mau berbagi persiapan apa saja yang saya lakukan untuk menyambut fasa baru ini

1. Mencari informasi sebanyak-banyaknya

Sebelum memulai dan berbelanja segala alat tempur, saya sangat menyarankan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai pemberian mpasi yang tepat. Saya sendiri mulai mencari informasi ketika Bara masih 2 bulan dan saya masih cuti melahirkan. Yang saya lakukan hanya membaca highlight ig story Dokter Meta (atau yang sering dipanggil dokmet). Dokter Meta sudah memberikan pemaparan mengenai mpasi dengan sangat lengkap. Dari A-Z semua dijabarkan. Dari menu yang harus diberikan (ada yang masih bingung mau memberi puree buah dulu atau makanan lengkap yang diblender?), aturan makan, jadwal makan, mpasi fortif, semuanya lengkap dibahas di sana. Jadi kita tidak perlu keluar duit banyak untuk mebeli buku mpasi. Tapi setahu saya, selain dokmet banyak juga dokter yang suka membahas mengenai mpasi. Silakan dicari saja. Tapi yang dicari dan dijadikan sebagai referensi benar-benar pakarnya ya. Jangan menjadikan selebgram/influencer yang bukan ahlinya sebagai referensi pemberian mpasi yang benar.

Saya sempat membeli 1 buku kumpulan resep mpasi. Setelah membaca ig dokmet, buku itu akhirnya tidak pernah saya pakai. Jadi, sebelum membeli bermacam buku atau peralatan mpasi. Saya sangat rekomendasikan untuk membaca highlight IG Dokter Meta ya (@metahanindita)

2. Menyiapkan peralatan Mpasi

Beberapa barang untuk Mpasi sudah saya dapatkan sebagai kado lahiran. Ada beberapa barang yang saya beli. Dari kado dan yang saya beli ada beberapa barang yang memang terpakai dan ada yang tidak terpakai sama saya.

Barang yang benar-benar saya pakai: 

1. Alat Makan (Piring, Mangkuk, Sendok dan Gelas) 

Kalau ini pasti. Karena saya dapat kado alat makan bayi, jadinya saya tidak membeli lagi. Saya bukan penganut pakai alat makan yang lucu biar anak mau makan. Karena memang sudah ada alat makan lengkap, jadinya saya cukup pakai yang ada saja. 

2. Tempat menyimpan makanan

Ini juga saya dapat kado dari teman. Wadah bertutup plastik dari Babymoov. Dan ini saya suka sekali karena ada takarannya dan bisa ditumpuk. Jadi tidak memakan tempat di kulkas. 

Karena saya bekerja, saya akan memasak mpasi Bara langsung untuk satu hari. Nanti tinggal saya bagi menjadi 3 dan disimpan dalam wadah babymoov ini. Kalau mau makan tinggal diletakkan saja dalam rice cooker. Praktis. Sampai Bara berumur 17 bulan, saya masih memakai wadah ini. 


Parenting Road: (Mpasi) Naik Tekstur

Wednesday, June 17, 2020

Aku bukan Ibu yang anti mpasi fortif. Malah aku suka kasi fortif untuk Bara. Karena aku percaya kandungan gizi mpasi fortif sudah terukur. Tapi, salahku, aku terlena dengan mpasi fortif. Karena suatu hal, aku pernah hanya memberikan Bara mpasi fortif selama 2 bulan. Hasilnya Bara tidak mau sama sekali makanan homemade, dan hanya mau mpasi fortif

Awalnya sih aku tenang saja, tapi ketika Bara berumur 10 bulan lebih aku kepikiran. Harusnya, di umur segitu Bara sudah bisa makan nasi lembek, tapi nyatanya Bara masih makan mpasi fortif yang bubur. Bara belum naik tekstur. Boro-boro mau naik tekstur, diberi homemade saja Bara langsung menolak. Sebetulnya ada mpasi fortif yang teksturnya untuk umur 9-12 bulan, tapi Bara tidak mau. Bara hanya suka 1 jenis fortif. 

Jadi, sebelum bisa naik tekstur aku harus membuat Bara mau makanan homemade. Kalau ditanya kenapa ingin sekali Bara naik tekstur, ya karena aku mengikuti saran ahlinya. Umur 9 bulan anak sudah bisa dikasih nasi lembek. Umur setahun sudah bisa nasi biasa. Setahu aku juga disarankan untuk naik tekstur sesuai umurnya karena tekstur penting untuk melatih otot mulut anak. Otot mulut anak perlu dilatih sebagai salah usaha agar anak tidak terlambat bicara.


Dari situ, aku dan Bara mulai belajar naik tekstur. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang ingin aku bagikan mengenai naik tekstur ini. 

Parenting Road: Sedang dan Masih Berusaha MengASIhi

Monday, October 14, 2019

Umur Bara baru 4.5 bulan. Jadi baru selama itu saya memberikan ASI untuknya. Dengan pengalaman saya yang masih minim ini saya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan meng-ASI-hi saya. Saya harap cerita saya ini dapat lebih memacu saya untuk tetap semangat memberikan ASI dan mungkin bisa membantu calon ibu muda yang ingin memberikan ASI kepada bayinya.

Di postingan saya tentang persiapan sebelum melahirkan saya memasukkan kunjungan ke konselor laktasi sebagai hal yang wajib dilakukan jika memang ingin memberikan ASI pada buah hatinya. Waktu itu saya sempat kebingungan mencari konselor laktasi yang ada di Cilegon. Setelah mencari-cari di instagram, sambil bertanya ke teman-teman kantor lainnya, akhirnya saya menemukan kontak Mbak Yani, anggota KPAB (Komunitas Peduli Asi Banten). Di usia kehamilan saya yang ke 32 minggu, Mba Yani sepakat untuk datang ke rumah saya dan memberikan materi tentang menyusui. Semuanya dijabarkan secara mendetail oleh beliau. Bagaimana ASI diproduksi, kandungan ASI, mengetahui tanda kecukupan ASI, latch on yang benar, manajemen ASIP, dan tetek bengek lainnya. Saya dan suami pun sangat terbantu dengan informasi yang diberikan dan sangat cukup menjadi bekal kami dalam meng-ASI-hi Bara. Untuk calon ibu yang ingin mengunjungi konselor laktasi (atau ikut kelas laktasi), jangan lupa ajak suami/ibu/mertua/siapa pun yang akan berada dalam satu rumah ya.

Walaupun sudah mendapatkan paparan lengkap dari konselor laktasi, perjalanan menyusui saya juga tidak langsung lancar. 3 hari awal pasca kelahiran, ASI saya belum ke luar. 2 hari awal, saya masih sangat santai, di hari ketiga, melihat mulut Bara kering, tangisan saya pecah. Saya sudah berusaha untuk menyusui setiap 2 jam sekali tapi ASI tetap belum keluar. Suami selalu menyemangati, kakak ipar menyarankan saya untuk merangsang payudara dengan pompa (selain dengan DBF). Tepat 72 jam setelah lahir, karena ASI saya belum keluar akhirnya kakak ipar saya memberikan ASI-nya untuk Bara. Melihat Bara lahap minum ASIP (dengan menggunakan sendok), pikiran saya langsung lega. Saya kembali bersemangat untuk memompa. Akhirnya di hari ketiga, di malam hari, ASI saya menetes ketika dipompa. Sungguh bahagianya saya melihat tetesan itu. Hasil pompa langsung saya berikan ke Bara. Hari-hari selanjutnya cukup tenang. Bara tetap saya susukan secara langsung dan sesekali saya pompa payudara saya (di mana hasil pompa saya terkadang hanya membasahi pantat botol, atau hanya 10-20 ml). Tepat 1 minggu setelah Bara lahir, kami kontrol ke dokter. Dan saat itu dokter mengatakan bahwa Bara kuning. ASInya kurang, minumnya kurang. Bara pun harus disinar 36 jam di rumah sakit. Lalu Bara minum bagaimana? Saya harus memompa ASI saya. Awalnya saya khawatir karena biasanya hasil pompa saya tidak banyak, namun, entah kenapa, saat itu karena dokter menghakimi ASI saya sedikit, semangat saya terbakar untuk membuktikan bahwa dokter itu salah. Dan benar. Ketika Bara disinar, hasil pompa saya meningkat menjadi 50-60ml. Dan Alhamdulillah itu sangat cukup untuk sekali minum Bara. Keluar dari rumah sakit, Bara semakin kuat menyusu dan Alhamdulillah sampai saat ini ASI saya masih sangat mencukupi kebutuhan Bara.

Si Garis Dua Muncul: Butuh Persiapan Apa Sebelum Melahirkan?

Tuesday, October 8, 2019

Anak sudah umur 4 bulan saya baru semangat lagi untuk menulis tentang kehamilan. Kali ini saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyambut kedatangan si bayi. Dulu mah saya mikirnya cukup beli baju dan keperluan bayi lainnya. Yang dilihat stroller-stroller lucu, selimut-selimut lucu, baju-baju lucu, tapi ternyata itu bukan persiapan utama ibu-ibu. Ya penting sih beli baju bayi, tapi ada hal lain yang harus calon ibu muda lakukan.

1. Berdiskusi dengan Suami

Untuk saya suami adalah tempat sandaran utama. Karena ibu yang baru melahirkan itu sangat renta, maka dukungan suami itu sangatlah dibutuhkan. Jadi, pastikanlah visi ibu dan suami dalam merawat bayi harus sama. Sebelum lanjut mempersiapkan kelahiran ada baiknya calon ibu banyak-banyak bercerita dengan suami. Berikut beberapa hal yang bisa didiskusikan dengan suami

- Mau melahirkan dengan normal atau SC? Saat persalinan mau ditemani oleh siapa? Apakah suami atau orang lain. Saat melahirkan apa yang istri inginkan dari suami? Diam saja sambil memegang tangan? Memberikan kata-kata semangat setiap saat?

- Bayinya mau diberikan ASI atau sufor? Jika ASI maukah suami memberi dukungan penuh? Ketika ASI ibu belum keluar di hari-hari awal, apakah mau ditambal dengan sufor dulu atau berpegang teguh pada prinsip bayi baru lahir bisa tidak minum selama 3 hari? Jika memang berpegang teguh untuk ASI, bisakah suami menguatkan istri ketika melihat anaknya menangis kencang, ketika seluruh warga dunia menyuruh untuk memberikan sufor karena bayi menangis terus, atau bayi tampak tidak gendut?

- Jangan biarkan suami berekspektasi ketika memiliki anak suasana rumah akan sama dengan sebelum memiliki anak. Fokus ibu adalah anak. Pekerjaan rumah, seperti bersih-bersih, cuci baju, memasak akan menjadi nomor sekian. Jika butuh bantuan suami untuk sekedar bersih-bersih atau mengganti popok anak silakan utarakan. Ibu butuh sekali istirahat. Mintalah pengertian dari suami.

- Untuk ibu pekerja, segera diskusikan jika cuti hamil habis, anak akan bersama siapa? Daycare? Ibu mertua? Mencari ART? Jika ingin mencari ART saya sarankan cari dari jauh-jauh hari. Sebaiknya dari sebelum melahirkan malah, supaya kita punya waktu untuk mengenal ART lebih baik

Ingat, setelah melahirkan besar kemungkinan ibu akan mendapat banyak omongan-omongan tidak enak dari orang lain. Tugas suami lah yang harus melindungi dan menangkas semua omongan-omongan itu.

2. Senam/Yoga Hamil (dan perbanyak jalan kaki)

Senam hamil tidak hanya berguna untuk ibu-ibu yang akan melahirkan secara normal. Karena banyak ibu hamil yang melakukan senam/yoga hamil sedari dini merasa bahwa badan mereka lebih segar, tidak mudah pegal. Setau saya, senam hamil bisa dilakukan dari trimester awal. Tapi ya gerakan senamnya sih berbeda-beda ya untuk bumil di trimester pertama, kedua maupun ketiga. Di senam/yoga hamil biasanya juga diajari teknik bernafas dan mengejan ketika persalinan nanti.

Saya baru ikut senam di trimester ketiga, dan itu juga tidak setiap minggu. Ketika cuti hamil saya baru lebih sering mengulang-ulang gerakan senam di rumah setiap hari. Jalan kaki sendiri memang selalu disarankan oleh obgyn saya terutama di minggu-minggu akhir kehamilan, untuk membantu si bayi masuk ke dalam pinggul.

Si Garis Dua Muncul! : Awal Mula

Thursday, September 5, 2019

Walau rasanya telat banget baru cerita sekarang tentang perjalanan kehamilan (anak saya sudah berumur 3,5 bulan) tapi gak papa lah ya untuk dokumentasi saya. :)

Saat itu, saya tidak terpikir sama sekali bahwa saya hamil. Saya bercerita santai kepada salah satu teman kerja bahwa saat itu saya sering kali ke kamar mandi, buang air kecil. Teman saya pun berceletuk, "Lo udah coba test-pack belom?" Err.. Tidak terpikirkan sama sekali. Maklum, sudah 2 tahun menikah, sudah beberapa kali saya mencoba test pack dan hasilnya selalu negatif. Tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Pulang kantor saya sempatkan mampir ke apotek untuk membeli test pack. Dicoba di rumah, dan akhirnya si garis dua  muncul. Yeay! 

Pertama kali lihat saya bengong dulu beberapa saat. Setelah yakin, garis dua merah itu masih ada, saya buru-buru keluar kamar mandi, teriak memanggil Nofec yang sedang menyiram rumput di halaman depan. Saya langsung kasih lihat hasilnya. Muka Nofec langsung berbinar. Kami berpelukan deh. 

Saya dan Nofec bukan pasangan yang ingin menunda untuk memiliki momongan, tapi kami juga tidak terlalu ngotot untuk segera memiliki anak. Yah, kapan dikasihnya aja. Tapi jujur, saya sendiri dari awal menikah, kadang sering bertanya pada diri sendiri "Sebenarnya, kenapa sih saya ingin memiliki punya anak? Apa karena desakan dari keluarga? Bosan ditanya orang sekitar? Merasa tersaingi karena teman yang menikah belakangan dari saya sudah hamil? Terpacu karena melihat postingan anak dari teman-teman saya di media sosial? Karena kodrat sebagai manusia harus punya keturunan? Untuk melanjutkan generasi keluarga?" Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali muncul di pikiran saya. Entah ya, mungkin bagi orang lain, pertanyaan saya terasa janggal. "Kok gitu sih mikirnya soal anak?" Tapi ya gimana ya. Saya benar-benar hanya ingin hati dan pikiran saya mantap untuk memiliki anak. Sama seperti ketika saya memutuskan untuk menikah. Saya tahu bahwa saya ingin memiliki teman hidup. Saya tahu saya tidak akan bahagia jika hidup saya dihabiskan sendirian. Saya butuh teman hidup di saat saya sedih atau bahagia. Maka, saya pun mantap menikah dengan Nofec. 

Sampai sekitar pertengahan tahun 2018, saya datang ke salah satu acara ulang tahun anak teman saya. Banyak anak kecil yang hadir. Awalnya perasaan saya biasa saja di acara itu. Ngobrol-ngobrol dengan teman. Tapi di tengah acara, ketika para anak kecil yang hadir berkumpul di depan, tiba-tiba mata saya berkaca-kaca dan airmata keluar sedikit. Sungguh, saya juga bingung kenapa. Padahal anak-anak itu lagi menyanyi dan menari. Lah, kenapa saya jadi menangis? Kalau kata orang itu hidayah kali ya. Saat itu, hati dan pikiran saya seperti berkata mantap "Ya, aku ingin punya anak." Kalau ditanya kenapa, saya pun tetap tidak bisa memberikan jawaban pasti. Naluri ibu mungkin? Entah. Saya hanya tahu, saya ingin punya anak. 

Cerita Pergi: Annyeong Korea Pt.3 (Trainingnya Ke mana Saja?)

Sunday, January 27, 2019

Karena saya ke Korea dengan tujuan training, semua aktivitas dalam seminggu pun sudah disusun oleh penyelenggara. Dari hari Senin sampai Jumat, mulai pukul 8 pagi sampai 6 sore, kami  mendapatkan materi training di kelas dan sesekali di luar ruangan. Karena padatnya jadwal, susah untuk mencari waktu jalan-jalan atau sekedar mencari oleh-oleh. Di Indonesia sudah terpikir akan pergi ke Myeongdong untuk berburu kosmetik, tapi sayang sekali waktunya tidak ada. Kosmetik dan snack buat oleh-oleh pun hanya saya beli di Homeplus (sejenis Hypermart).

Selama seminggu, saya berada di 3 kota yang berbeda. 3 hari pertama training dilakukan di Songdo, Incheon. Hari ke-4 kami bergerak ke Pohang. Hari ke-5 ke Seoul. Dan hari ke-6 berpindah kembali ke Songdo. Sebenarnya jadwal di Songdo lebih longgar dibandingkan di Pohang atau Seoul. Lebih tepatnya jadwal malamnya. Kelas berakhir pukul 6 sore, lalu dilanjutkan makan malam selama sekitar setengah jam. Setelah itu jadwal bebas. Tapi karena wilayah Songdo yang tidak ramai dan sedikit tempat untuk berbelanja atau sekedar nongkrong, tidak banyak yang bisa saya kunjungi di sana. Ditambah lagi pada hari kedua saya sakit pilek yang membuat saya menghabiskan 1 malam di kamar saja.  

3 hari pertama di Songdo saya hanya berkunjung ke Triple Street (mall) dan Homeplus. Ketika 5 tahun yang lalu saya ke Songdo, Triple Street belum ada (saya kurang ingat apakah saat itu Homeplus sudah ada atau belum). Menurut saya, konsep mall Triple Street ini keren. Bangunannya memanjang, dan lurus. Jalan utama mall yang tidak beratap berada di tengah, dan toko-toko ada di sisi kanan dan kirinya. Di satu bagian mall, terdapat halaman berumput luas dengan undakan-undakan batu tempat para pengunjung duduk sambil mendengarkan musik akustik yang dimainkan secara langsung oleh para pemusik di bagian depan halaman tersebut.

Cerita Pergi: Annyeong Korea! Pt. 2 (Money Changer atau ATM Global?)

Saturday, February 3, 2018

Jadwal training saya secara resmi dimulai dari tanggal 18 September sampai 23 September. Namun, karena di tanggal 17 September sore ada jadwal orientasi singkat, saya dan 2 teman saya lainnya berangkat ke Korea di hari Sabtu, 16 September 2017 menggunakan Asiana Airlines. Ini pertama kalinya saya naik Asiana Airlines. 5 tahun yang lalu saat saya training di Korea, saya menggunakan Cathay Pacific. Saya mendapatkan penerbangan malam, pukul 23:30.

Penerbangan ke Korea ditempuh selama kurang lebih 7 jam. Selama penerbangan, kami mendapatkan 1 kali midnight snack dan 1 kali sarapan. Karena penerbangan keberangkatan saya di malam hari, tidak banyak hal yang saya lakukan di pesawat. Saya tidak menggunakan fasilitas in flight entertainment  dan lebih banyak memakai waktu saya untuk tidur. Saya terbangun hanya pada saat pemberian midnight snack dan sarapan. Karena pada saat pemesanan tiket (oh ya, yang memesankan tiket adalah tim HR perusahaan) saya menyebutkan makanan yang tidak bisa saya makan adalah makanan non halal, maka pramugari memberikan makanan yang berbeda kepada saya. Untuk midnight snack saya mendapat sandwich sayur dengan tuna, sedangkan penumpang yang lain mendapatkan burger (yang saya pikir) berisi ham. Rasa sandwichnya lumayan enak. Yang pasti mengenyangkan.

Foto di atas adalah menu makan malam saat penerbangan ke Indonesia. Menu khusus halal. 
Satu jam sebelum mendarat, para pramugari menyajikan sarapan. Saya mendapat nasi kuning dengan daging sapi. Rasanya enak. Penumpang yang lain bisa memilih 2 menu yang disiapkan. Saya lupa satu menunya, tapi menu yang lain adalah bubur. Beberapa saat setelah sarapan pesawatpun mendarat. Yeay~ Korea!

Yang membuat sedikit kecewa di Asiana Airlines adalah in flight entertainment-nya (ini pengalaman penerbangan pulangnya ya, soalnya pas berangkat saya tidur terus ^^). Pilihan filmnya sedikit dan tidak banyak film barunya. Layarnya sedikit kecil dan touch screen-nya tidak cepat bereaksi. Alhasil, saya lebih memilih untuk menonton drama Age of Youth di handphone saya.

Cerpen: Prasangka

Friday, January 5, 2018

Tami menatap pria yang berjalan 100 meter di depannya. Sosok pria kurus dengan tinggi tidak lebih dari telinganya itu berjalan perlahan sambil menunduk mengamati handphonenya. Gelak tawa dari kerumunan pria yang berjalan di sampingnya tidak mengusik konsentrasinya pada layar handphone. Pria itu mempercepat langkah kakinya menjauhi kerumunan pria tersebut. Ia menarik tali depan ranselnya dan menekan ear plug-nya agar lebih masuk ke dalam telinganya.

“Heuh. Pake ear plug? Manja.” gumam Tami pelan. 

Pria itu semakin mempercepat langkah kakinya dan segera menghilang dari balik pintu kantor. 

***

“Enggak gitu. Semua prosesnya secara berkelanjutan. Material dari yard langsung masuk ke hopper, langsung diproses langsung jadi besi cair. Yah 6 jam lah kira-kira dari dimasukin sampai mencair. Trus langsung dibawa ke proses selanjutnya.” 

“Enggak.” Tami memilin kabel teleponnya tidak sabar. 

“Ya iya. Itu kalau didiemin seharian ya temperaturnya turun dong ya. Bisa beku lagi nanti malah.” 

Tami menatap Ridho yang sedari tadi melongo dari bilik mejanya. Mencari bahan gosip. “Ya tetep bisa dibawa ke casting machine. Bisa dijual. Untung lah.” 

“Iya.” Ucap Tami lemah. Sesaat ia mejauhkan gagang teleponnya. Telinganya sedikit memanas setelah hampir 15 menit ia berbicara di telepon. Di menit-menit akhir Tami hanya bergumam iya, oke, atau baik. Ia sudah lelah menjelaskan proses yang ada di pabriknya ke beberapa orang. Dan Tami selalu heran, setiap kali ada orang yang bertanya padanya hal yang sama, orang tersebut berasal dari tim yang sama dengan penanya sebelumnya. 

“Sama-sama. Iya. Gak pa-pa.” Tami menutup teleponnya dan menghela nafas panjang. Ia menggeser kursinya mendekati meja Ridho. Ridho menoleh dengan ekspresi bertanya. 

“Si Beta. Heran deh gue. Mereka yang di HQ itu kerjaannya apa sih? Emang sih mereka ga menyinggung operasi, tapi ya mbok basic-nya itu udah di luar kepala napa.” 

“Lo jelasin runut dong.” 

“Doi nanya tentang proses operasi. Butuh berapa jam dari kapal datang, barang dipakai jadi besi cair? Men, dia nanyanya dari kapal datang. Mana gue tahu itu kita pake yang dari kapal yang mana. Udah kecampur gitu. Dia kira setiap kapal ditaruh di tempat yang beda-beda? Jadi kayak 1 tempat buat 1 brand, kapal datang pas brand itu habis, jadi langsung ditaro di sana, trus dipake. Duh, Gusti Allah. Dia gak pernah jalan-jalan ya ke lapangan ya? Gue disuru jelasin sesuatu mah gak masalah. Tapi kalo udah pertanyaannya kebangetan ini ya gue bete juga.” 

Ridho menganggu-angguk. “Anak baru kali.”

“Iya kali. Hm.. Enggak kok. Seinget gue doi udah lama. Ya gak selama gue sih. Dari gue pindah ke posisi ini, gue udah sering kontak sama dia kok.” 

“Yah, lo juga ga ngerti masalah duit di kantor kita kan? Cara ngitung harga material, pembelian dan lain-lain. Sama lah ya. Beda bidang aja dia sama kita.” 

“Iya sih emang. Tapi please-lah, dia nanya itu besi cair dari kita ke proses selanjutnya bisa nyampe sehari atau gak? Kalau iya trus ditaro dimana. Menurut lo? Lagian ya gue heran deh sama si Beta ini. Gue udah suruh dateng ke sini, biar gue jelasin semuanya, tapi gak mau dateng. Terus aja nanya lewat telepon. Sebel gue diteleponin ditanya macem-macem. Kenapa sih gak nyempatin ke sini aja? Daripada habis waktunya nelpon gue. Emang sesibuk itu sampe gak bisa ke sini? Males banget ke lapangan kali ya? Takut kena debu? Duh, tipikal anak HQ banget sih. Minta rapat di pabrik ditolak mentah-mentah. Gak mau kena debu. Ntar jerawatan.” 

Ridho mengangkat pundaknya. Tami menggeser kursinya kembali ke meja kerjanya. Sesaat ia melihat notifikasi di emailnya dan melihat nama Beta sebagai pengirimnya. Tami menggerutu pelan. 

***

“Lo ikutan makan gak Lih?” Surya menepuk punggung kursi Galih. Galih tersentak, menolehkan pandangannya dari komputer ke belakang punggungnya. 

“Enggak Mas.” Galih menggeleng lemah

“Oh, bawa bekel ya?” 

Galih menggeleng kembali. “Lagi ada kerjaan. Ditungguin habis makan siang banget soalnya.” 

Surya mengangkat pundaknya. “Oke kalo gitu.” 

Surya berjalan ke arah Tami yang sudah menunggu di ambang pintu bersama Indra dan Anto. Tami membentuk kata ‘gak ikut?’ dengan mulutnya. Surya menggeleng sambil menggiring rekannya ke pintu keluar kantor menuju mobilnya.

“Si Galih lagi puasa emang?” tanya Tami sesaat setelah ia duduk dan memasang seat belt mobil. 

“Enggak. Biasa dia mah gak ikutan makan siang. Tapi tadi doi bilang lagi ada kerjaan.” 

“Kerjaan apaan dah?”

“Entah.” Surya menyalakan mobil dan melajukannya menuju arah gerbang depan kantor. “Tadi si gue tau dia dipanggil Mr. Ko tentang analisanya. Trus Mr. Ko gebrak meja dong di depan Galih. Mr. Ko lho ini. Orang yang gak pernah gue liat marah.”

“Masalahnya apa emang bro?” tanya Indra 

“Gak tahu pasti gue. Tapi dari kemarin si Galih emang beberapa kali mondar-mandir ke meja Mr. Ko. Mungkin udah berkali-kali revisi tapi gak bener-bener juga laporannya.” 

“Lo ga berusaha ngajarin apa gimana Sur? Lo kan duduk di sebelahnya.”

“Lah, orangnya sendiri gak ada nanya atau cerita apapun. Ya gue pikir mah dia udah bisa.” 

“Tapi Galih ini anaknya emang suka mendam sendiri. Gue pernah ngerjain laporan bareng sama dia. Gue bagi-bagi tugas. Dia ekstrak data yang mana, buat grafik yang mana. Ntar tinggal digabungin. Gue udah selesai trus gue tungguin aja kerjaan dia. Lama banget bro. Gue telpon katanya sebentar lagi. Ya udah gue samperin aja ke lantai atas. Belum nyampe 30% bro. Doi gak ngerti cara ngerekap data dari sistem di excel. Gak tahu formulanya katanya. Trus dia ngabisin waktu nyari-nyari di Google. Yah, kalau emang gak tahu ya kenapa gak nanya aja coba. Emang bakal gue gigit apa.” 

“Takut jatuh cinta sama lo kali To, lo kan ganteng.” 

“Taik lo Sur.”

“Kemarin si Bento cerita, doi pernah secara ga sengaja ngeliat emailnya si Galih. Dan si Galih itu email ke HR. Dia minta supaya dipindahkan departemennya. Katanya sih karena gak kuat kalau harus kerja di lapangan terus-terusan.” 

“Dah. Dia gak kuat, lah terus gue apa? Gue muntah darah. Trus dibales sama HR?”

“Nah, si Bento gak sempet liat-liat lagi. Gak tahu sih email request-an Galih itu berujung ke mana.” 

“Untung dia masuk pas operasi udah stabil. Kalau dia masuk pas awal-awal operasi apa kabar dia? Udah minta kabur di hari pertama kayaknya.” Tatapan Tami menerawang ke atas, mengingat beberapa tahun yang lalu ketika ia harus masuk hampir 24 jam ketika pabriknya baru mulai beroperasi. 

“Si Rizky pernah nanya tuh sama Galih betah atau gak di sini. Katanya mungkin karena belum kenal banget sama yang lain, jadi dia belum merasa betah di sini. Mungkin itu kali ya alasan dia pingin pindah.” 

“Men, lemah banget sih. Gue butuh 6 bulan lebih supaya bisa nyaman ngobrol sama Surya. Setahun lebih supaya bisa ngata-ngatain doi. Dan dia baru berapa lama? 3 bulan? Lagian gimana mau deket sama yang lain kalau dia sendiri selalu menjauh dan gak mau ngomong apa kesusahannya. Ya akhirnya dia sendiri kan yang keteteran sama kerjaannya. Lama kerjanya.” Ujar Tami berapi-api. 

“Nyante dong Tam. Ini udah nyampe kok. Gue tau kok lo laper makanya sensi berat.” Tami mengerling ke arah Surya dan menyempatkan melandaskan kepalan tinju ke pundak Surya sebelum membuka pintu mobil. 

***

Cerita Pergi: Annyeong Korea! Pt.1 (Pakai Internet Apa Ya?)

Thursday, October 5, 2017

Untuk kedua kalinya, saya diberi kesempatan oleh kantor untuk mengikuti training seminggu di Korea Selatan. 5 tahun yang lalu, di bulan September juga, saya berangkat ke Korea untuk mengikuti training selama 3 bulan. Waktu itu training saya terfokus mempelajari proses produksi. Kali ini program training-nya lebih fokus ke leadership dan ownership. Menarik.

Sebelum cerita tentang pengalaman training-nya, saya mau cerita persiapan keberangkatan dulu ya. Saya dapat info untuk ikut training ini sekitar akhir Agustus. Setelah mengonfirmasi ulang ke team leader dan HRD, saya pun fix menjadi peserta training. Karena training ini adalah program dari perusahaan induk di Korea, saya gak perlu ribet untuk mencari akomodasi di sana. Yang harus saya persiapkan cukup paspor dan dokumen-dokumen untuk membuat visa. Kebetulan paspor saya habis di bulan Agustus 2017. Mau gak mau saya harus perpanjang paspor. Waktu itu saya perpanjang paspor di kantor imigrasi Cilegon. Prosesnya cepat asal semua dokumen yang disyaratkan lengkap. Saya sampai di kantor imigrasi jam 9 pagi selesai jam 11 kurang. Itu juga sudah termasuk keterlambatan 1 jam akibat adanya gangguan di sistem foto mereka. Biaya perpanjangan paspor sebesar Rp 355,000. Setelah membayar di bank, paspor bisa diambil dalam 3 atau 4 hari kerja. Gampang dan cepat prosesnya. 

Untuk visa, perusahaan saya yang mengurusnya secara koletif dengan 2 teman saya lainnya yang juga mengikuti training. Saya hanya perlu melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Biaya pembuatan visa saat itu Rp 544,000. Sekitar 2 minggu setelah menyerahkan dokumen ke HRD, visa saya pun jadi. Siap berangkat ke Korea.

Walau sebenarnya sudah banyak blog atau web yang membahas persyaratan visa ke Korea, saya tetap tampilkan daftar dokumennya di bawah ini ya.

Isi Perut: Wingers Cilegon

Wednesday, October 4, 2017

Minggu malam kemarin, saya dan Nofec lagi suntuk banget di rumah. Pingin nongkrong di luar, ide tempat makan udah mentok. Tiba-tiba saya ingat, beberapa saat yang lalu, saya sempat melihat di instagram tempat makan yang menyajikan sayap ayam goreng dengan berbagai saus, seperti Wing Stop. Penasaran (dan karena kangen juga makan di Wing Stop), saya dan Nofec pun segera meluncur ke sana. Nama restorannya Wingers dan berlokasi di PCI. Silakan lihat google mapnya

Sampai di sana, restorannya lagi sepi, sepenglihatan saya sih. Dari luar tampaknya restoran ini punya 2 lantai. Saya hanya melihat seorang pelayan saja di lantai 1. Mungkin di lantai 2 ada pelanggan yang lain. Saya gak sempat main-main ke lantai 2. Tidak banyak memilih, saya dan Nofec duduk di kursi yang terletak di bagian kiri restoran. Ruangan restoran ini cukup luas dan lega. Kursi dan meja kayu yang tersedia pun cukup banyak sehingga membuat tempat ini sangat cocok untuk nongkrong dengan teman.

Interior Wingers Cilegon

Dapurnya kelihatan dari meja pelanggan. 

Cerita Pergi: Riau Here I Come

Saturday, September 16, 2017

Saya pertama kali ke Sumatra itu tahun lalu? Atau 2 tahun yang lalu? Waktu itu saya ada tugas kantor untuk mengecek tambang batu silika di Lampung. Saat itu tidak banyak tempat yang saya lihat karena perjalanan kami tempuh dengan mobil dari Cilegon dan itu sudah cukup memakan waktu.

Bulan September ini akhirnya saya kembali ke Sumatra. Bukan untuk mengecek tambang, tapi untuk menghadiri pernikahan teman kantor saya di Duri, Riau. Acara pernikahannya sendiri berlangsung tanggal 3 September. Tapi karena kebetulan tanggal 1 September itu libur, saya dan Nofec memutuskan untuk pergi ke Riau di tanggal 1, sehabis sholat Idul Fitri. Selain supaya gak terlalu mepet, saya juga punya Pakde yang tinggal di Pekanbaru. Jadi saya bisa sekalian mampir untuk silaturahmi dan menginap di sana. 

Saya berangkat ke Riau naik pesawat Lion Air pukul 4 sore. Awalnya saya memesan yang jam setengah 3 sore, tapi sehari sebelumnya saya diberitahu bahwa jadwal penerbangan saya dimundurkan menjadi pukul 4 sore. Gak masalah sih buat saya karena saya memang gak terburu-buru ke Riaunya. Sampai di bandara, Alhamdulillah penerbangannya gak delay lagi. Sekitar jam 4 sore pesawat pun lepas landas. Penerbangan ke Riau memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit.

Saya sampai di Riau sekitar pukul setengah 6 sore. Saya dijemput Pakde saya. Sebelum menuju ke rumah Pakde, saya diajak makan di rumah makan Pak N’Dut. Kalau di Cilegon Pak Ndut itu menyediakan bebek, di tempat yang saya tuju itu menyajikan ikan bakar. Ikan bakarnya sendiri enak. Bukan ikan bakar bumbu kecap ya. Bumbunya sederhana, kayak pakai garam mentega doang. Tapi enak. Sambalnya sih yang mantap. Pedes segar gitu. Selain ikan bakar, kami memesan tumis kangkung, terong goreng dan telor dadar. Tumis kangkung dan terong gorengnya sendiri standar enak ya. Tapi telor dadarnya rasanya kok uenak ya. Padahal cuma telor dadar dikasi bawang bombay lho. Dimakan pakai sambal dan nasi. Wah uenake pol. Saya jadi gak banyak makan ikannya, kebanyakan makan telornya. Habis makan di Pak N’dut, kami langsung menuju rumah Pakde saya.


Top 5: Kuliner Favorit di Cilegon (Part I)

Sudah 5 tahun tinggal di Cilegon, kok rasanya kurang afdol kalau belum berbagi tempat makan favorit di sini. Dari 5 tahun yang lalu, sudah banyak banget perkembangan di dunia perkulineran Cilegon ini. Walaupun gak pesat banget, tapi lumayan semakin banyak pilihan. Kali ini yang akan saya bahas cuma tempat makan yang paling sering daya datangi bersama Nofec. Sebenarnya, ada beberapa tempat makan yang saya suka tapi Nofec gak terlalu suka. Begitu juga sebaliknya. Maka, kali ini saya hanya  menyebutkan tempat makan yang memang sesuai selera kami berdua. 

Beberapa tempat makan belum sempat saya foto karena belum sempat ke sana lagi. Nanti kalau saya sudah ke tempat makannya, saya update lagi post ini.  Dan maaf ya kalau sebagian foto agak gak oke. ^^

1. Selat Sunda

Buat yang suka ikan bakar, wajib banget buat datang ke tempat ini. Restoran ini memang hanya menyediakan seafood dan cara pengolahannya hanya dibakar. Perlu dicatet baik-baik ya. HANYA DIBAKAR. Jadi, kalau suka seafood yang diolah dengan berbagai macam saus (saus padang, asam manis, dll), kayaknya ini bukan tempat yang tepat. Bumbu bakarnya pun hanya satu jenis. Bumbu dasar dengan mentega dan garam. Gak ada yang namanya bakar kecap, bakar madu, dll. Seafood yang tersedia pun hanya ikan, udang dan cumi. Walaupun menu yang disediakan terbatas, tapi saya tetap suka banget datang ke sini. Bumbu mentega dan garamnya itu nyerap banget di ikan dan udang. Enak banget. Sambal yang disediakan di sini ada dua macam, sambal kecap dan sambal tomat dengan kemangi. Perpaduan sambal sama ikan atau udang bakarnya sempurna. Saya kalau ke sini biasanya pesan ikan kue bakar dan udang bakar. Juara banget deh rasanya. Untuk harga rasanya sesuai dengan rasa dan porsinya. Harga ikan 1 ons-nya sekitar 80 ribu. Kalau udang sekitar 70 ribu per porsinya. Selain ikan, udang dan cumi, Selat Sunda juga menyediakan sayuran seperti cah tauge dan kangkung. Kalau lagi ke Cilegon, harus mampir ke sini deh. Lokasi Selat Sunda sendiri di Jalan Ketileng Cilegon

2. Sop Kambing Tiga Saudara

Rasanya nama tiga saudara ini  ada dimana-mana. Entah semuanya berhubungan atau tidak. Tiga Saudara di Cilegon sendiri mengklaim dirinya sebagai cabang dari Tiga Saudara Roxy, Jakarta. Entah benar atau tidak, tapi yang pasi rasanya enak. Sop Tiga Saudara ini penampakan dan rasanya seperti soto betawi. Kuah santan dan susu dicampur dengan mentega dan daging (lebih banyak jeroan sih). Tapi kita bisa mengambil sendiri daging atau jeroan yang inginkan. Rasa kuahnya yang gurih dicampur dengan sambal itu nendang banget di mulut. Enak banget dimakan malam hari. Buat yang gak suka kambing, di sini juga ada daging sapinya kok. Nanti tinggal dipilih aja mau kambing atau sapi. Sop Kambing Tiga Saudara berada di jalan utama Merak-Cilegon. Kalau dari arah Merak lokasinya di kanan jalan di seberang gedung Sucoffindo

Ini sopnya udah dicampur sambel. Mantap lah dimakan sama nasi putih

Penampakan warungnya

K-Pop: [SM Station: Yo Young Jin & Taeyong] Cure & [NCT: Taeyong, Taeil, Doyoung] Stay in My Life

Thursday, September 14, 2017

Taeyong is everywhere.

2 lagu yang saya sebut di atas adalah lagu yang lagi sering banget  saya putar belakangan ini. Sampai Nofec hafal iramanya (dan dia ngotot ada lagu Inggris yang sama persis iramanya dengan Cure). Yoo Young Jin sendiri merupakan produser dari SM. Dia sudah memproduseri lagu-lagu untuk TVXQ, SNSD, BoA, Sujum etc (banyak banget lagu hits yang dibuat, silakan cek wikipedianya aja). Sebelum Cure, Yoo Young Jin juga penah mengeluarkan lagu station bersama D.O EXO yang berjudul Tell Me (What is Love). Suara mereka berdua kuat banget di lagu itu.


Pertama kali dengar Cure, saya langsung jatuh cinta. Siapa sih yang gak bakal jatuh hati dengar suara Yoo Young Jin di lagu soft rock seperti ini? Lirik Cure bercerita tentang harapan. Dan cerita tersebut dituangkan di dalam MV-nya di mana diperlihatkan predebut Taeyong yang selalu berlatih, berharap untuk dapat segera debut (haha, ini kesimpulan saya sendiri ya). Btw, SM kayaknya terlalu cinta dan mengeskploitasi muka anak ini. Banyak banget scene close-up muka Taeyong. Dan setiap kali ngeliat muka Taeyong, saya selalu kebayang Jaejong. Muka mereka berdua mirip banget. 

Stay in My Life adalah soundtrack dari drama KBS School 2017. Saya gak nonton dramanya, tapi karena saya suka banget sama vocal line NC, begitu tahu Taeil dan Doyoung menyanyikan soundtrack drama, langsung saya cari deh lagunya. I adore their voice. Awalnya saya gak banyak berharap (karena sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan soundtrack drama yang bernuansa ballad karena terkadang membosankan), tapi ternyata lagu ballad ini malah jadi favorit saya belakangan ini. Lagunya lembut, menenangkan, enak aja buat didengar.

Saya berharap banyak semoga ke depannya vocal line NCT ini (plus Jaehyun dan Haechan mungkin) punya lebih banyak kesempatan untuk mengeluarkan lagu (atau album, saya berharap banyak banget ni). SM, please...


*Ini post udah lama banget nangkring di draft. Tapi dua lagu ini masih sering saya dengar kok sampai sekarang. Masih suka. 

Cerita Pergi: Ti Amo Hotel, Penebel, Tabanan

Wednesday, August 2, 2017

Sudah lama saya berniat untuk mengajak orangtua saya menginap di luar rumah kami di Jalan Muliawan. Tidak sampai ke luar pulau, cukup di dalam Bali saja. Dan karena saya dan Nofec lebih suka dataran tinggi daripada dataran rendah, maka kami memutuskan untuk menghabiskan satu malam di Jatiluwih. Awalnya kami berencana untuk menginap di Ubud, tapi setelah mencari-cari hotel di Ubud, kami tidak berhasil menemukan yang sesuai dengan selera dan budget. Lalu tiba-tiba, aplikasi booking online kami merekomendasikan Ti Amo Bali. Setelah melihat-lihat kondisi hotel di internet, akhirnya saya dan Nofec setuju untuk memesan Deluxe Joglo Double Room di hotel ini.

Bangunan Joglo bagian belakang. Sayang saya tidak mengambil foto bagian depannya. 
Lokasi Ti Amo sebenarnya tidak persis berada di Jatiluwih, melainkan di daerah Penebel. Untuk menuju Jatiluwih dibutuhkan waktu sekitar 20 menit (kurang lebih 10 km) dengan mobil. Tapi, jika anda merasa tertantang untuk bersepeda, Ti Amo menyewakan sepeda dengan harga Rp. 75,000 untuk 1 hari.

Ini kamar bungalow yang saya foto dari balkon kamar saya
Kami tiba di Ti Amo pada hari Minggu siang (23 Juli). Staf hotel sangat ramah menyambut kami. Sebelum ke kamar, kami dipersilakan untuk menikmati teh jahe yang disediakan gratis oleh hotel di salah satu gazebo yang berada di halaman depan hotel. Ti Amo ini merupakan hotel kecil yang hanya mempunyai 6 kamar dengan pemandangan sawah di sekelilingnya. Di halaman depan hotel, terdapat 2 gazebo. Kolam renang berada di bagian tengah hotel yang membatasi bangunan Joglo dengan 2 kamar bungalow lainnya. Selagi kami meminum teh, staf hotel memberikan informasi dasar tentang hotel dan bagaimana cara kami menuju Jatiluwih. Sangat membantu!

Cerita Pergi: Lebaran 2017

Monday, July 17, 2017

Mohon maaf lahir batin semuanya!

Bagaimana libur Lebaran kemarin? Semoga menyenangkan ya.

Setelah bertahun-tahun saya selalu merayakan Idul Fitri di Bali, akhirnya untuk pertama kalinya saya tidak pulang kampung. Karena keluarga Nofec berencana pulang ke Purworejo tahun ini, maka sayapun ikut ke sana. Kami pergi ke Purworejo hari Minggu 25 Juni setelah solat Idul Fitri di Depok.

Sejujurnya, beberapa hari sebelum berangkat saya merasa tegang banget. Nervous. Pertama kalinya berlebaran di rumah 'orang lain'. Ketemu keluarga besar Nofec. Tegang, takut kaku. Namanya baru pertama kali ketemu keluarga besar orang lain ya pasti banyak diemnya. Apalagi saya yang emang bawaan dari kecil gak suka basa-basi. Tapi lama-kelamaan jadi lumayan berkurang kakunya.

Di Purworejonya sendiri saya gak banyak pergi. Hanya mengunjungi keluarga Nofec dan ke alun-alun Purworejo. Alun-alun Purworejo sendiri tidak berbeda jauh dari alun-alun di kota Jawa lainnya yang pernah saya datangi. Sebuah lapangan rumput luas berbentuk bundar dan disekelilingnya para pedagang kaki lima menjajakan jualannya. Ada pengalaman gak enak sewaktu kami mencoba makan di salah satu warung di sana. Saya ingat sekali nama warungnya ‘Lesehan Pak Dhe’. Makanan yang kami pesen lama sekali disajikan. Pas kami tengok kanan-kiri, pengunjung yang datang belakangan dari kami, justru lebih cepet mendapatkan makanannya. Padahal pesanannya mirip. Ayam goreng, bakmi, nasi goreng. Melihat itu, kami langsung protes ke penjualnya. Penjualnya cuma bilang kalau dia lupa sama pesanan kita. Sedih. Belum dibuat sama sekali. Akhirnya nunggu lagi. Eh, udah diprotes gitu makanannya masi lama banget datang. Pengunjung yang lain udah keluar aja makanannya. Protes lagi. Dan baru dibuat deh makanannya. Sedih.

Hari Selasa, kami ke Borobudur bersama mbah putri, bule dan om. Dan seperti yang sudah diduga, sepanjang perjalanan mobil kami melaju pelan. Macet. Dan sampai Borobudur pun kami agak kewalahan mencari tempat parkir. Banyak sekali pengunjungnya. Karena saya sudah beberapa kali ke Borobudur, maka saya dan Nofec memutuskan untuk tidak naik sampai puncak. Kami menyerah melihat tangga yang penuh sesak oleh manusia. 


K-Pop: NCT 127 'Cherry Bomb' Mini Album Review

Friday, June 23, 2017

Few times ago I told and convince myself that there will be no new k-pop group I will give my attention to. But yeah, thanks SM, I sincerely give them a soft spot in my heart. 

It's started when I suddenly curious what kind of song that this SM's baby deliver. I go to Youtube watched 7th Sense and Without You performance. Although 7th sense is such a weird song for me, but I'm loving it (i still can not understand why i love thing song) and Without You? Bless Taeil's voice. It's the type of voice that I like. His voice reminds me of Kyuhyun's voice. And I think their face also look alike. After that, I impulsively download their new mini album after seeing Cherry Bomb on music show. The dance is absolutely on point!!! 

Let me write my opinion about this mini album.



Top 5: Film Favorit Thisa-Nofec 2016

Tuesday, June 20, 2017

Iya, saya tahu sekarang sudah hampir setengah tahun berjalan di 2017. Udah telat banget rasanya ngeluarin daftar film rekomendasi di tahun 2016. 

Sebenarnya ini post sudah lama banget nyangkut di draft. Awalnya pingin dipost pas awal 2017. Tapi entah bagaimana, sepertinya karena memang sayanya yang malas merampungkan post ini, post ini gak terbit-terbit. Berdebu sebagai draft. Karena saya sama Nofec (terutama Nofec) suka nonton film, jadi sayang aja kalau post ini gak jadi terbit. Maka, segera saya rampungkan 6 daftar film favorit kami di 2016. 

(Ssstt.. Maaf ya kalau komen pendeskripsian kami tentang filmnya masih kacau ^^)

1. Nice Guys


Shane Black (Iron Man 3) menyutradarai drama polisi yang mengambil latar belakang di Los Angeles selama tahun 1970, dan berpusat pada sepasang detektif yang tanpa sengaja terlibat dalam sebuah konspirasi ketika menyelidiki dugaan bunuh diri bintang porno wanita. Film ini dibintangi oleh Russell Crowe dan Ryan Gosling

Komen Nofec: 
- Chemistry karakter yang dimainkan Ryan Gosling dan Russle Crowe di film ini sangat sempurna. Karakter mereka seperti saling melengkapi. 
- Dialognya masuk banget sama joke orang-orang Indonesia 

Komen Thisa: 
Suka banget sama dialog dan joke-joke yang keluar selama film ini. Ryan Gosling dan Russell Crowe sempurna banget memerankan pasangan detektif yang suka berdebat gak penting yang berhasil bikin saya ketawa. Ini film action memang, tapi yang mencuri perhatian saya malah dialog-dialog dengan sense of humor yang cucok sama selera saya. Film yang harus banget ditonton. 

Skor Nofec: 5/5
Skor Thisa: 5/5 

2. La La Land


Info Film (dari Rotten Tomatoes)
Ditulis dan disutradarai oleh Damien Chazelle, La La Land bercerita tentang Mia [Emma Stone], seorang aktris, dan Sebastian [Ryan Gosling], seorang musisi jazz yang berdedikasi, yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan di sebuah kota yang dikenal untuk menghancurkan harapan dan mematahkan hati. Berlokasi di Los Angeles, film musikal ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari sambil mengeksplorasi sukacita dan rasa sakit ketika mengejar impian Anda.

Komen Nofec: 
Perpaduan warna, musik dan koreografi yang ciamik, memberi kesan yang menyenangkan dan sangat menghibur pada film ini 

Komen Thisa: 
Ini tahun Ryan Gosling banget kali ya (ya paling gak buat saya). Dua filmnya jadi film favorit saya di 2016. Kalo saya disuru milih antara Nice Guys atau La La Land, saya gak bisa milih euy. Dua-duanya favorit. 2 jam nonton La La Land bikin hati dan pikiran saya bahagia. Berasa pingin ikutan joget-joget selama nonton. Koreografinya kece. Paling suka scene nari Emma Stone dan Ryan Gosling berdua. Lucu. Saya juga suka wardrobenya, warna-warna filmnya, dan endingnya. Ini film beneran bikin bahagia deh. Nonton ya. Wajib! ^^

Skor Nofec: 4.5/5
Skor Thisa: 5/5 

Let’s Talk About Relationship: Komunikasi

Monday, June 19, 2017

Kunci Utama: Komunikasi

“Kak, punya tips buat aku gak kak?” (pertanyaan teman yang pada saat itu akan menikah)

Dikasi pertanyaan kayak gitu terus saya bengong. Lah wong saya baru 8 bulan lebih nikah. Masih bau kencur. Masih seumur jagung. Belum ada apa-apanya lah pengalamannya. Tapi biar gitu, saya tetep jawab berdasarkan pengalaman saya yang masih dangkal ini. Komunikasi. Buatlah komunikasi yang baik antar suami dan istri. 

Saya membina hubungan dengan makhluk pria ini ya baru sama Nofec ini. Pacar pertama, dan langsung nikah sama dia. Saya memang berniat kalau pacaran ya memang harus berujung ke pernikahan. Kalau tau dari awal bahwa hubungan yang akan dibina tidak mungkin berujung ke pernikahan ya saya gak akan bina. Dan emang sebelum ketemu sama Nofec, gak ada cowok yang nyangkut sama sekali ke saya. T.T . Jadi Nofec ini termasuk pria yang beruntung ya. ^^

Membina hubungan dengan seorang pria merupakan suatu pengalaman baru buat saya. Sedikit gambaran, saya ini anaknya agak pemalu, introvert, susah banget mengutarakan apa yang ada di dalam perasaan. Dari sedikit teman yang saya punya, rasio cewek lebih banyak. Jadi bisa dibilang interaksi saya saya cowok itu memang jarang. Baru setelah saya bekerja di perusahaan baja ini, saya mulai familiar dengan makhluk berwujud pria ini. 

Duh, kalau diingat awal-awal saya kerja di perusahaan ini, pahit. Karena saya anaknya kaku, pemalu, jadi saya butuh waktu lumayan lama supaya bisa dekat dengan teman-teman pria di sini. 6 bulan lebih mungkin. Bulan-bulan awal saya bingung, mesti makan sama siapa, ngobrol sama siapa. Kaku banget rasanya. Tapi untungnya teman-teman saya di sini baik-baik banget. Walau sayanya kaku, aneh, mereka tetap bercanda sama saya, ngajak ngobrol saya. Akhirnya setelah beberapa saat saya jadi terbiasa bergaul bersama mereka. Dan di antara teman-teman pria itulah ada Nofec. ^^ 

Bergaul dengan pria-pria ini membuat saya tahu bahwa pria dan wanita itu memang 2 manusia yang memiliki karakteristik yang khas. Pria lebih mengutamakan logika, dan wanita lebih sering berbicara perasaan. Saya tidak berusaha menyamakan semua pria dan wanita. Tapi, itulah yang saya tangkap selama ini. Dan saya tidak mengatakan pria lebih baik dari wanita atau sebaliknya. Justru saya jadi mengerti, Allah menciptakan 2 makhluk berwujud pria dan wanita ini memang untuk saling melengkapi. 

Counting The Day: Wedding Report

Tuesday, May 23, 2017

Haha! Akhirnya setelah hampir 8 bulan berlalu, saya berhasil mengumpulkan niat untuk cerita tentang hari pernikahan saya. Saya sempat membuat beberapa post tentang persiapan pernikahan saya (walau gak semua persiapan saya ceritakan sih, sudah rempong duluan dengan nikahnya plus niat menulis agak memudar), akhirnya sekarang saya simpulkan saja semuanya menjadi satu dalam 'wedding report' ini. ^^ 

Saya dan Nofec sepakat untuk menikah pada tanggal 24 September 2016 di Denpasar, Bali. Acara akad dilangsungkan sore hari sehabis Ashar dan resepsi pernikahan diselenggarakan sesudahnya (sehabis Maghrib). Kedua acara diselenggarakan di Hotel Nikki. Saya dapat dua ruangan yang berbeda untuk meyelenggarakan akad nikah dan resepsi (tanpa dikenakan biaya tambahan!). Akad nikah digelar di Intan Room dan resepsi di Grand Ballroom Mutiara. Untuk Hotel Nikki sendiri saya sangat puas dengan apa yang saya dapatkan. Dapat ekstra ruangan untuk akad, makanannya memuaskan, mbak pj dari hotelnya sangat membantu (Mba Novi, sekali lagi terimakasih banyak). Intinya saya tidak menyesal mengambil paket di hotel ini. 

Untuk konsep dan rundown acara semua disusun oleh ayah saya. Tentu dengan masukan dan pendapat dari saya, Nofec, kakak dan ibu saya. Panitia acarapun tersusun dari keluarga besar saya. Saya sangat terbantu dengan panitia keluarga ini. Saya tidak harus sibuk memikirkan hal-hal kecil. Saya cukup duduk manis di kamar hotel untuk didandani. Acara akad sendiri dimulai sekitar jam 4 sore. Untuk acara akad, ayah saya meminta para tamu untuk menggunakan dress code warna putih. Dan itu memang bikin suasana terasa lebih syahdu. 

Seumur-umur mungkin ini momen yang paling bikin saya deg-degan (tapi kayaknya belum melebihi sidang TA sih). Padahal saya mah cuma duduk tenang saja di kursi, Nofec yang bakal ijab qabul. Setelah mendengarkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, lalu dilanjutkan ceramah nikah, akhirnya yang ditunggu datang juga, Alhamdulillah, Nofec lancar mengucapkan ijab qabul dan kamipun resmi menjadi suami istri. Mungkin di saat itu saya melihat ketampanan Nofec bertambah berkali-kali lipat. Raut mukanya yang serius dan mantap mengucapkan ijab qabul bakal selalu mengena di hati saya. Belum pernah saya melihat raut mukanya seperti itu. Tapi habis ijab qabul tampang aslinya langsung kelihatan. Cengengesan.


Setelah akad nikah, kami saling menyematkan cincin di jari manis kami. Setelah itu acara yang menguras air mata pun dimulai. Sungkeman. Secara bergiliran kami sungkeman kepada mbah dan kedua orangtua. Selesai sungkeman dan foto-foto sebentar, saya dan Nofec berkeliling ruangan untuk menyalami tamu satu-persatu



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS